Advertisement

Responsive Advertisement

Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas) cerpen Seno Gumira Ajidarma


Misteri Kota Ningi
(atawa The Invisible Christmas)

cerpen Seno Gumira Ajidarma

Pada malam natal itu, lonceng gereja berkeloneng, dentangnya bergema ke seluruh penjuru Kota Ningi. Kudengar gema paduan suara menyanyikan malam kudus, dan di langit kulihat bintang-bintang brgitu terang. Kehidupan manusia begitu fana—tapi bukankah kita selalu percaya, ada sesuatu yang bernilai abadi dalam hidup ini?
Pada malam natal, di Kota Ningi, kulangkahkan kakiku di sepanjang jalan yang kosong sambil berpikir tentang makna fana dan abadi. Aku tidak akan pernah berpikir tentang soal-soal seperti itu kalau aku tidak sampai ke kota Ningi. Maklumlah, aku ini Cuma seorang petugas sensus yang sederhana. Hidupku kering dan tidak menarik. Aku hanya bergaul dengan angka-angka. Pekerjaanku terbatas pada menghitung, ada berapa jumlah anggota keluarga dalam sebuah rumah. Begitulah aku menghitung jumlah orang dari rumah ke rumah, sampai terkumpul jumlah penduduk seluruh kota, dari tahun ke tahun.
Suatu ketika dalam hidupku sebagai seorang petugas sensus, aku ditempatkan di kota ningi. Sebuah kota yang tidak kukira akan membangunkan aku dari kantuk hidupku yang begitu panjang. Maklumlah, sekali lagi, maklumlah, menghitung jumlah orang dari kota ke kota sungguh sangat terlalu gampang, dan sungguh sangat tidak bervariasi. Dari kota ke kota aku hanya melihat anak manusia beranak pinak, dari tahun ke tahun mereka beranak pinak dan menghabiskan lahan dan akhirnya saling bertengkar.
Di kota Ningi aku menemukan suatu hal yang lain sama sekali. Di kota Ningi, dari tahun ke tahun, penduduknya yang lain makin berkurang. Aneh sekali. Ketika dunia mengerutkan kening karena laju pertumbuhan penduduk yang mengerikan, kota Ningi malah makin lama makin berkurang penduduknya. Ketika aku membongkar-bongkar arsip, catatan pada 1974 menunjukkan jumlah 688.771 orang. Namun, ketika aku menghitungnya kembali pada 1978 ternyata penduduknya sudah menjadi 329.271 orang. Ke mana yang 359.500 orang itu pergi? Aneh sekali. Toh, bukan soal penyusunan itu benar yang membuatku merasa aneh.
Baiklah, kuceritakan padamu bagaimana kehidupanku yang mengantuk sebagai petugas sensus itu tergugah.
“Jadi, semuanya ada tujuh, ya, Bu?”
“Sebenarnya delapan.”
“Ya, yang satu sudah meninggal kan?”
“Tidak, dia belum mati. Dia memang dibunuh, tapi belum mati.”
“Mana dia?”
“Dia ada di sini, bersama kami.”
“Mana?”
Tangannya menunjuk ke meja makan. Aku memandang ke arah yang ditunjuk oleh tangannya itu. Kulihat ada nasi di piring, ada kerupuk, dan ada tempe. Kulihat sendok dan garpu bergerak sendiri, seolah-olah ada seseorang yang memegangnya, dan menyuapkan nasi serta tempe itu ke mulutnya. Aku ternganga.
“Itu siapa?”
“Dia Adelino, saudara kami yang ditangkap, diinterogasi, dan dipukul sampai mati. Tapi dia masih di sini, coba lihat.”
Kulihat kerupuk itu melayang sendiri, terdengar suara krauk-krauk, lantas hilang entah ke mana. Barangkali saja Adelino yang menelannya.
“Jadi, jumlah kami sebetulnya ada delapan.”
Aku keluar dari rumah itu dengan kepala pusing. Kulihat sendiri bagaimana teko tertuang, gelas terangkat, air terminum dan lenyap, seolah-olah memang ada yang meminumnya.
Aku ini cuma seorang petugas sensus, cuma seorang pegawai kecil, soal semacam itu agak terlalu berat untuk kepalaku. Aku cepat-cepat masuk lagi ke sebuah rumah lain, mencoba melupakan kejadian di rumah yang tadi. Tapi, begitulah, Ningi agaknya adalah sebuah kota yang betul-betul ajaib. Di setiap rumah yang kumasuki selalu ada saja makhluk-makhluk tak kelihatan itu. Berulang kali aku melihat lagi sendok lagi sendok dan garpu bergerak sendiri mengambil lauk, gelas yang tertuang ke mulut yang tidak kelihatan, maupun suara orang mandi jebar-jebur, namun sungguh mati tidak kelihatan orangnya. Cuma gayung naik-turun tanpa seorang pun memegangnya. Ajaib.
Dengan begitu saja bisa disebutkan, penduduk kota itu terdiri atas orang-orang kelihatan dan tidak kelihatan. Kalau aku berjalan di kota itu, kadang-kadang melihat sepasang sandal jepit berjalan sendiri, sepeda motor tiba-tiba menyala dan tancap gas, begitu juga dengan mobil yang melaju tanpa pengemudi. Di pasar terdengar terdengar keramaian dari orang-orang yang tidak kelihatan maupun yang yang tidak kelihatan. Agaknya orang-orang Kota Ningi sudah terbiasa hidup bersam orang-orang yang tidak kelihatan itu meskipun orang-orang yang tidak kelihatan itu tampaknya sama sekali tidak berbicara.
Orang-orang kota Ningi selalu menyebut orang-orang fyang tidak kelihatan itu sebagai “Saudara kami” dengan wajah yang dingin. Mereka seperti tidak terlalu bersedih bahwa saudara mereka itu tidak kelihatan. Barangkali mereka bersedih juga, tapi sudah menjadi terbiasa. Tepatnya, mereka sudah terbiasa bersedih sehingga tidak kelihatan seperti sedang bersedih sama sekali. Wajah orang-orang yang kelihatan ini begitu dingin, cuek, dan pandangan matanya sarat dengan penderitaan—meski, begitulah, mereka tidak pernah sekali pun menampakkan diri sebagai orang yang sedang bersedih.
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada masa lalu di Kota Ningi. Di kota itu tidak ada catatan sejarah. Buku-buku sejarah yang kulihat di perpustakaan lebih mirip dengan dongeng. Bagaimanakah caranya orang-orang Ningi mengenal dirinya sendiri? Sejarah tak terhapuskan, tapi catatan sejarah bisa saja dimusnahkan. Sebagai petugas sensus, dari masa lalu aku hanya menemukan angka-angka, tapi apalah yang bisa diceritakan angka-angka?
Menurut pengalamanku sebagai petugas sensus, kalau laju pertumbuhan penduduk Kota Ningi itu normal, yakni 0,9% per tahun, berdasarkan data dari tahun 1970 sampai 1973, maka pada 1980 jumlah penduduk kota itu mestinya 667.100 orang. Ternyata, ketika aku menghitungnya dari rumah ke rumah, jumlahnya cuma 555.350 orang. Aku merasa sangat heran. Tidak ada wabah, tidak ada perang, tiada pula perpindahan besar-besaran, tapi ke manakah lenyapnya makhluk bernama manusia yang jumlahnya 111.750 itu. Dalam sebuah desa di pinggir kota saja, yang penduduknya pernah mencapai 9.607 orang, sejak 1976 sudah kehilangan 5.021 penduduknya—mereka itu kah yang menjadi makhluk-makhluk tak kelihatan, menjadi setan-setan gentayangan?
Tentu saja aku mendengar bisik-bisik bahwa pada malam hari berkeliaran rombongan bertopeng yang suka memasuki rumah penduduk dengan paksa  dan membawa penghuninya pergi. Menurut bisik-bisik itu, orang-orang yang diculik tidak selalu bisa kembali. Mereka yang bisa kembali sudah tidak ada wujudnya dan tidak bisa berbicara. Orang-orang serumah anehnya juga tidak merasa heran. Agaknya mereka  percaya bahwa orang yang matinya tidak wajar seperti dibunuh, misalnya, tidak akan pergi ke mana-mana.
Meskipun aku ini hanya seorang petugas sensus,  pada waktu-waktu luang kusempatkan juga membaca studi antropologi  tentang lingkungan pekerjaanku. Dari sana aku tahu bahwa penduduk kota Ningi percaya bahwa sebagai arwah, jiwa mati itu suci, sehingga masih bisa bergentayangan di dekat-dekat orang yang hidup.
Setelah bertahun-tahun aku tinggal di kota Ningi, aku sudah terbiasa dengan makhluk-makhluk yang tidak kelihatan ini. Meskipun aku tidak pernah bisa memahaminya secara tuntas. Sebagai petugas sensus yang tugasnya adalah menghitung, menghitung, dan menghitung maka yang terpenting bagiku adalah melaporkan perkembangan angka-angka.
Maka aku pun terus mencatat bahwa penduduk kota Ningi dari tahun ke tahun semakin berkurang. Sebaliknya, orang-orang yang tidak kelihatan semakin bertambah juga, hanya saja ada yang kelihatan dan ada yang tidak kelihatan. Antara ada dan tiada.
To be or not to be
Rumah yang pertama kumasuki dulu, ketika kumasuki lagi penghuninya tinggal satu orang, yang tujuh sudah tidak kelihatan. Jadi kalau makan yang tampak dia sendirian di meja itu, tapi di sebelah-sebelahnya sendok garpu berdentingan dengan piring. Banyak sekali benda-benda yang berterbangan dan sandal jepit yang berjalan sendiri di rumah itu. Begitu juga yang terjadi di segenap penjuru kota Ningi.
Dari tahun ke tahun penduduk kota Ningi semakin berkurang, aku tahu suatu hari nanti penduduknya akan habis dan digantikan para pendatang.
Di jalanan aku sering berpapasan dan bertumbukan dengan orang-orang yang tidak kelihatan yang meneteskan darah terus-menerus, tentu saja aku hanya melihat tetesan-tetesan darah yang entah dari mana asalnya, diiringi suara keluhan. Di trotoar, di lapangan sepak bola, di pasar, di pantai, seringkali kujumpai darah yang menetes-netes kian ke mari.
Itulah darah orang-orang yang tidak kelihatan itu, yang dengan sengaja dihentikan kehidupannya. Akan tetapi, mereka tidak bisa mati. Mereka tetap ada di sana, hidup dan bergerak seperti orang biasa.
Sebagai petugas sensus aku juga mencatat pertumbuhan orang-orang yang tidak kelihatan itu, banyak sudah rumah penghuninya tidak kelihatan semua, hanya gelas, sapu, dan televisi yang bergerak dan menyala sendiri. Aduh, bagaimana caranya mereka tertawa kalau ada acara lawak yang  bagus ya? Sebab mereka tidak bisa berbicara kecuali untuk merintih, mengerang dan mengaduh.
Siang hari aku menghitung dan malam hari aku tidak berani keluar rumah karena takut dengan orang-orang yang bertopeng seperti ninja. Meski teorinya, mereka tidak akan pernah masuk ke rumahku karena aku ini hanya seorang pendatang. Selama ini gerombolan bertopeng itu hanya memasuki rumah penduduk asli kota Ningi. Begitulah semuanya terjadi, sampai penduduk kota Ningi habis sama sekali.
Pada malam hari natal, tinggal aku sendiri yang kelihatan di kota itu. Loncneg gereja berkeloneng, dentangnya bergema sampa ke seluruh kota Ningi, kudengar gema paduan suara menyanyikan “Malam Kudus”, dan di langit, bintang-bintang begitu terang.
Aku merayakan Natal bersama orang-orang yang tidak kelihatan.
Barangkali aku akan membuat puisi tentang hal ini. Barangkali aku akan memberinya judul The invisible Christmas. Memang aku hanya seorang petugas sensus yang sederhana, tapi, bolehkan aku merenungkan makna yang fana dan abadi?




Teater Jabal, Sanggar Jabal, Seni Pertunjukan, Seni Teater, Cerpen, Seni Drama, Pentas Produksi, Naskah Teater, Berita Seni

Posting Komentar

0 Komentar